Tag: Tafsir Pendidikan Islam

Resume Tafsir Pendidikan Islam

Resume Tafsir Pendidikan Islam

 

Judul Buku      : Tafsir Pendidikan Islam

Pengarang       : Dr Akhmad Alim, MA

Penerbit           : Al-Mawardi Prima AMP Press (cetakan pertama, Oktober 2014)

 

PENGANTAR TAFSIR TEMATIK (MAUDHU’)

Tafsir secara bahasa artinya al-kasyfu (menyingkap), al-idzhar (menampakkan), al–bayan (menjelaskan). Menurut istilah adalah disiplin ilmu yang berfungsi untuk menjelas maksud kandungan Al-Quran.

Tematik atau Maudhu’ berasal dari bahasa Arab yang berarti meletakkan sesuatu, menjadikan, dan membuat tema tentang sesuatu.

Adapun secara istilah, yang dimaksud tafsir maudhu’ adalah sebagaimana perkataan Al-Farmawi:

“Tafsir Maudhu’ adalah mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran yang mempunyai maksud yang sama, yang terkait dalam satu topik masalah, kemudian menyusunnya berdasarkan sebab turunnya ayat-ayat tersebut, selanjutnya memberikan syarah, dan analisa, serta mengambil kesimpulan.”

Urgensi Tafsir Maudhu

  1. Tafsir Maudhu’ lebih praktis dalam menjawab tantangan zaman, dan memberikan solusi dari problem kontemporer.
  2. Tafsir Maudhu’ mencakup seluruh disiplin ilmu.
  3. Dapat mengetahui hubungan dan persesuaian antara beberapa ayat dalam satu judul bahasan.
  4. Tafsir Maudhu akan mendorong lahirnya berbagai macam disiplin ilmu baru khususnya sains.
  5. Memberikan pandangan pikiran yang sempurna, sehingga mampu mengetahui seluruh nash-nash Al-Quran mengenai topik tersebut secara sekaligus.
  6. Menghindari adanya pertentangan dan menolak tuduhan daripada orientalis yang mengatakan bahwa ajaran Al-Quran bertentangan dengan zaman dan ilmu pengetahuan sekarang.
  7. Untuk para akademis, akan lebih mudah mengetahui secara sempurna berbagai macam topik dalam Al-Quran dengan pembahasan yang lebih fokus dan menyeluruh.
  8. Mempelajari suatu topik bahasan Al-Quran tanpa susah payah.
  9. Akan menarik minat belajar, menghayati dan mengamalkan ajaran Al-Quran.

Tafsir Maudhu’ dalam Lintas Sejarah

Tafsir Maudhu’ sebenarnya bukanlah kajian yang baru dalam Islam. Peletakan dasar-dasarnya telah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW. Yaitu ketika beliau menafsirkan satu tema ayat, kemudian merelevansikannya dengan ayat yang lainnya yang semisal. Sebagai contoh ketika Rasulullah saw menafsirkan ayat daripada surah Al-An’am ayat 82 dengan surah Luqman ayat 13 ketika ada sahabat yang bertanya tentang konsep ketenangan jiwa bahwa jiwa akan tenang jika tidak tercampur kezaliman.

Kemudian masuk periode berikutnya yaitu pada masa tabi’in dan ketika ini metode tafsir tidak jauh berbeda dengan masa Rasulullah saw.

Periode berikutnya adalah masa Tabi’ Tabiin. Tafsir mulai dibukukan, yang dipelopori oleh Ibnu Jarir at-Thabary, dengan mencantumkan sanad masing-masing penafsiran sampai kepada Rasulullah saw, sahabat dan para tabi’in.

Generasi ahli tafsir berikut mulai mengembangkan tafsir menurut bidang keilmuan para mufassir (ahli tafsir) seperti al-Qurtubi menafsirkan ayat al-Quran dari segi hukum kemudian ats-Tsa’laby dan al-Khazin yang melihat ayat al-Quran dari segi sudut sejarah

Periode berikutnya,  yang dikenal dengan periode Tafsir Tematik (Maudhu’), yaitu membukukan tafsir menurut suatu pembahasan tertentu sesuai disiplin bidang keilmuan seperti contohnya Az-Zarkasyi dalam Al-Burhan, Ibnu Qayyim dalam at-Tibyan fi Aqsamil Qur’an, Abu Ja’far An-Nukhas dalam Nasih wal Mansukh, al-Wahidi dalam kitab Asbabun Nuzul dan Al-Jasshas dalam Ahkam al-Qur’an.

Metode Penafsiran Secara Umum

  1. Pertama, Tafsir Bil Ma’tsu atau Bir-Riwayah, yaitu metode penafsirannya berfokus pada shahihul manqul (riwayat yang shahih) dengan menggunakan penafsiran Al-Quran dengan Al-Quran, Al-Quran dengan Sunnah, Al-Quran dengan perkataan para sahabat dan penafsiran Al-Quran dengan perkataan para tabi’in.Contoh kitab tafsir yang menggunakan metode ini adalah: Tafsir At-Thabari (Jami’ al-Bayan fii Ta’wil Ayyi Al-Quran), Tafsir Ibnu Katsir (Tafsir Al-Quran Al-Azim), Tafsir Al-Baghawy (Maalim At-Tanzil), Tafsir Imam As-Suyuti (Ad-darru Al-Mantsur fii Al-Tafsir bi Al-Mantsur)
  2. Kedua, Tafsir Bir-Ra’yi (Dirayah). Metode ini mencakup dua bagian (1) Ar-Ra’yu Al-Mahmudah (Penafsiran dengan akal sehat yang dipuji) dengan ijtihad yang tidak keluar dari nilai-nilai Al-Quran dan Sunnah, serta tidak bertentangan dengan riwayat yang shahih. Contoh kitabnya seperti Tafsir Al-Qurthubi (Al-Jami’ Liahkami Al-Quran), Tafsir Al-Jalalain (Tafsir Jalalain), Tafsir Baidhawy (Anwaru At-Tanzil wa Asraru At-Ta’wil). (2) Ar-Ra’yu Al-Mazmumah (penafsiran dengan akal yang dicela), karena tertumpu pada penafsiran makna dengan pemahaman logika semata, tanpa landasan riwayat yang shahih. Contoh kitabnya Tafsir Zamaksyari (Al-Kasysyaf an Hakoik At-Tanzil wa Uyun Al-Aqowil fii Wujuh At-Ta’wil) dan Tafsir syiah “dua belas”.

Metode Tafsir Tematik (Maudhu)

  1. Menetapkan masalah yang akan dibahas.
  2. Menghimpun seluruh ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan masalah tersebut.
  3. Menyusun urutan-urutan ayat terpilih sesuai dengan perincian masalah dan atau masa turunnya.
  4. Mempelajari korelasi (munasabat) masing-masing ayat dengan surah-surah di mana ayat tersebut tercantum.
  5. Melengkapi bahan-bahan dengan hadis-hadis yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.
  6. Menyusun outline pembahasan dalam kerangka yang sempurna sesuai dengan hasil studi masa lalu.
  7. Mempelajari semua ayat yang terpilih secara keseluruhan dan atau mengkompromikan antara yang umum dengan yang khusus.
  8. Menyusun kesimpulan penelitian yang dianggap sebagai jawaban Al-Quran terhadap masalah yang dibahas.

Pembagian Tafsir Tematik (Maudhu’)

  1. Musthalah Qur’ani, yaitu tafsir maudhu’ yang berhubungan dengan istilah-istilah yang ada dalam Al-Quran.
  2. Maudhu Qur’ani, yaitu tafsir maudhu’ yang berhubungan dengan tema tertentu yang terdapat dalam Al-Quran.
  3. Surah Qur’aniyah, yaitu tafsir maudhu yang berhubungan dengan surat tertentu dalam Al-Quran.

Adab Penafsir Al-Quran

  1. Beraqidah shahihah dan memiliki worldview yang lurus, tidak sekuler, liberal maupun syiah.
  2. Tidak mendahulukan kepentingan hawa nafsu semata.
  3. Menafsirkan dengan sesuai dengan urutan penafsiran, yaitu menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran, kemudian dengan As-Sunnah, perkataan para sahabat dan perkataan para tabi’in.
  4. Paham bahasa Arab dan disiplin ilmu yang mendukungnya, karena Al-Quran turun dengan bahasa Arab.

 

LANDASAN IDEOLOGIS PENDIDIKAN.

 

Dalam sebuah pendidikan diperlukan sebuah fondasi yang kokoh untuk berdiri tegak, demikian dengan pendidikan, untuk membangunnya diperlukan sebuah landasan yang kuat sebagai fondasi yang kokoh.

Problem yang paling mendasar, yang kurang disadari oleh kebanyakan pakar pendidikan adalah masalah landasan pendidikan ideology pendidikan yang dipengaruhi oleh worldview barat. Salisu shehu menjelaskan bahwa worldview barat sekuler ini bisa menampilkan dirinya dalam tiga bentuk: worldview humanis, agnostik, atau ateis. Pada worldview ini, kepercayaan terhadap keberadaan tuhan tidak terlalu diperhatikan, kalaupun keradaan tuhan disadari, tetap saja tidak dianggap memiliki signifikasi terhadap kehidupan.Lebih jauh, keberadaan Tuhan dapat dianggap sebagai mitos dan bagi mereka yang benar-benar wujud hanyalah materi.

Worldview barat sekuler ini telah masuk ke negeri muslim pada masa penjahahan kolonial. Memang saat ini, para penjajah itu sudah hengkang, namum produk pendidikan sekuler warisan mereka masih digunakan sampai sekarang. Pendidikan sekuler ini lah yang pada akhirnya menghasilkan krisis dualism yang digambarkan dengan adanya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu non agama. Saat ini, sebagaimana yang digambarkan William C. Chittick, banyak pemikir modern yang beriman tidak bisa menghindarkan diri dari benak yang terkompartemenkan atau dengan kata lain telah terjadi keterbelahan dalam pikirannya. “Satu kompartemen pikiran akan mencakup ranah professional dan rasional, sedangkan kompartemen yang lain menampung ranah ketakwaan dan amal pribadi.

Kajian Teoritis

Menurut Anas Ahmad Karzon, bahwa landasan utama dalam membangun pendidikan adalah fondasi tauhid. Sebagaimana dalam pengertian syahadatain “aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah”

Tauhid adalah dasar ajaran Islam yang paling fundamental. Bahkan tauhid selain prinsip utama secara keseluruhan dalam hal keimanan, secara umum tauhid juga prinsip utama dalam konstruk epistemologi Islam, termasuk dalam upaya melakukan integrasi ilmu, bahkan konstruk pendidikan Islam.

Mengenai tauhid sebagai prinsip pengetahuan yang memberi bukti bahwa iman dalam Islam adalah standar rasionalitas, Al-Faruqi menulis lebih lanjut: iman adalah dasar bagi suatu penafsiran yang rasional atas alam semesta. Iman juga merupakan prinsip utama dari akal, tidak mungkin bersifat non-rasional atau irasional, dan dengan demikian bertentangan dengan dirinya sendiri. Iman sungguh merupakan prinsip rasionalitas yang pertama, menyangkal atau menentangnya sama dengan menggelincirkan diri dari kebernalaran dan karenanya dair kemanusiaan.

Kajian Tafsir.

 Tauhid sebagai landasan ilmu tersebut dibangun atas firman Allah dalam Al-Quran surat Ibrahim ayat 24-27.

Pada ayat tersebut menggambarkan dengan jelas akan pengaruh tauhid dalam semua hal, termasuk dalam masalah pendidikan.

TUJUAN PENDIDIKAN

Aktivitas apapun haruslah memiliki tujuan, atau niat yang benar, tanpa kecuali pendidikan. Karena tanpa tujuan dan niat, proses yang ditempuh akan kehilangan arah dan arti, yang pada akhirnya berujung pada kegagalan.

Tujuan pendidikan merupakan masalah sentral dalam filsafat pendidikan, jika benar dalam merumuskannya maka semua proses pendidikan akan menemukan jalan kesuksesan, namun jika salah dalam merumuskan tujuan  pendidikan, maka semua proses pendidikan hampir pasti akan berakhir dengan kegagalan.

Berbicara tentang tujuan pendidikan bukanlah hal yang mudah, berbagai macam teori telah dikemukakan oleh banyak pakar di negeri kita, meskipun demikia, terkadang hal itu justru menambah problem baru ketimbang menawarkan suatu solusi, hal ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Dr. Dinar Kania pakar di bidang Filsafat Pendidikan, bahwa problem pendidikan di Indonesia saat ini seperti tumpukan benang kusut yang sulit diuraikan. Berbagai upaya dan terobosan terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

 Oleh karena itu, perlu langkah untuk merumuskan kembali tujuan pendidikan yang sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw serta mengacu kepada tradisi intelektual Islam yang telah membawa kegemilangan dan kesejahteraan kepada umat manusia selama berabad-abad. Jika ini terealisasi, maka akan pendidikan mampu mencetak manusia-manusia beradab yang mampu menjadi rahmat bagi semesta alam.

Kajian Teoritis

 Adian Husain dalam catatannya yang disampaikan dalam diskusi sabtuan di INSIST, 12 Juni 2010 mengatakan bahwa inilah hakekat dari tujuan pendidikan, yakni mencetak manusia yang baik, sebagaimana dirumuskan oleh Prof. S.M Naquib al-Attas dalam bukunya, jika dialih bahasakan seperti berikut “Orang baik” atau good man, tentunya adalah  manusia yang berkarakter dan beradab. Tidak cukup seorang memiliki berbagai nilai keutamaan dalam dirinya, tetapi dia tidak ikhlas dalam mencari ilmu, enggan menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar, dan suka mengumbar aurat dan maksiat. Pendidikan, menurut Islam, haruslah bertujuan membangun karakter dan adab sekaligus!”

Kajian Tafsir

Allah swt tidak menciptakan Jin dan manusia bukanlah sia-sia, tetapi, ada tujuan dibalik penciptaan mereka, yang tidak lain adalah tujuan ibadah. Dalam arti menyembah Allah Swt, mengesakan, mengagungkan, membesarkan, dan menaati-Nya, dengan melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebagaimana firman-Nya Swt.

“Dan aku tidak menciptakan Jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Q.S Adz-Dzariyat: 56)

Imam As-Sa’di menafsirkan ayat ini, bahwa tujuan penciptaan Jin dan manusia adalah agar mereka menjadi hamba Allah yang taat beribadah.

Imam Al-Baghawi menukit perkataan dari kalangan tabi’in yaitu Imam Mujahid, bahwa tujuan hidup manusia adalah ma’rifatullah, yaitu mengenal Allah sebagai satu-satunya Rabb yang diibadahi yang memiliki sifat –sifat yang sempurna.

Al-Qurthubi menafsirkan, bahwa tujuan hidup manusia adalah agar mereka menjadi hamba yang bertauhid

Az-Zamaksyari menafsirkan ayat ini bahwa hakikat tujuan manusia adalah beribadah, jika manusia tidak mau beribadah, berarti hakikatnya ia bukanlah manusia yang diakui sebagai hamba Allah.

As-Sam’ani menambahkan penafsirannya dengan “al-inqiyad”, yaitu tujuan diciptakan manusia agar mereka senantiasa taat terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah.

Ar-Razi mengaitkan ayat tersebut dengan surah Al-Hujurat ayat 13, yang mana tujuan hidup manusia yang paling mulia adalah agar mereka menjadi hamba yang bertaqwa.

Tujuan Implementatif

  1. Tujuan Umum pendidikan
  2. Tujuan Institusional
  3. Tujuan Kurikuler
  4. Tujuan Instruksional.

KURIKULUM PENDIDIKAN

Sejak tahun 1947 hingga kini, Indonesia sudah sembilan kali pergantian kurikulum. Menurut Prof. Ahmad Tafsir, penggantian kurikulum tersebut hanya bersifat tambal sulam. Watak masa depan memang sering diungkapkan, tetapi tidak diantisipasi secara memadai dalam kurikulum. Memang akhir-akhir ini ada kurikulum lokal, tetapi belum juga ada kurikulum global.Sebenarnya yang dibutuhkan adalah kurikulum global ketimbang kurikulum lokal.

Kurikulum merupakan salah satu komponen pendidikan yang memiliki kedudukan dan peranan penting dalam mengembangkan keperibadian murid.Kurikulum haruslah bersifat komprehensif dan proporsiona.Komprehensif berarti susunan secara menyeluruh dan mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia, baik aspek rohani dan jasmani.Proporsional artinya susunannya seimbang antara aspek rohani dan jasmani juga. Jika kurikulum tidak disusun secara komprehensif dan proporsional maka akan melahirkan generasi atau output yang memiliki pribadi yang pecah dan mengembang.

Abdurrahman asn-Nahlawi menyatakan bentuk kurikulum modern ada tiga bentuk:

  1. Kurikulum Materi-Terpisah (Teori Bakat)
  2. Kurikulum Materi-Integral
  3. Kurikulum Terpusat
  4. Kurikulum Proyek

Bentuk-bentuk kurikulum pendidikan modern diatas jika ditelaah secara seksama, akan terlihat bahwa bentuk-bentuk kurikulum itu, seluruhnya adalah untuk pengembangan kecerdasan ranah intelektual semata, sedangkan untuk kecerdasan ranah emosional dan apalagi spiritual terabaikan. Karena memang tidak ada satupun metodologi pendidikan modern barat bertujuan untuk mengembangkan kecerdasan ranah spiritual. Sebab, masalah ranah spiritual atau agama adalah masalah pribadi yang tidak memiliki hubungan dengan realitas sosial.

Kajian Teoritis

Secara harfiah kurikulum berasal dari bahasa latincurriculum yang berarti bahan pengajaran. Terdapat juga dalam bahasa Yunani kuno berasal dari kata curir yang artinya pelari, dan curere yang artinya tempat berpacu.

Pengertian ini sejalan dengan pendapat Crow dan Crow yang mengatakan bahwa kurikulum adalah rancangan pengajaran yang isinya berupa sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematik yang diperlukan sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu pendidikan tertentu.

Dalam bahasa Arab istilah kurikulum diterjemahkan dengan kata manhaj, yang berarti seperangkat rencana pengajaran dan media untuk mengantarkan lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan.

Ahmad Tafsir mengartikan kurikulum sebagai sebuah program, karena esensi kurikulum adalah program itu sendiri, yaitu program dalam mencapai tujuan pendidikan.

Kemudian konsep kurikulum dapat ditinjau dalam empat dimensi yaitu:

  1. Kurikulum sebagai suatu ide yang dihasilkan melalui teori-teori dan penelitian.
  2. Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis.
  3. Kurikulum sebagai suatu kegiatan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis.
  4. Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsenkuensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan, dalam bentuk ketercapaian tujuan kurikulum.

Kajian tafsir

  1. Kurikulum Tauhid.

“Dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Q.S Luqman: 13)

Dalam ayat ini, kurikulum pertama yang diperkenalkan luqman kepada anaknya adalah kurikulum tauhid.Yaitu agar tidak menyekutukan Allah dengan sesembahan yang lainnya.Karena menyembah kepada selain Allah berarti telah menjerumus pada perbuatan syirik.Kesyirikan itu amat jelek dan berakibat jelek, serta kezaliman yang nyata karena kesyirikan adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Siapa yang menyamakan antara pencipta dengan yang diciptakan (makhluk), antara patung dengan tuhan, tidak diragukan lagi, dia adalah orang yang bodoh yang dijauhkan oleh Allah dari hikmah dan akal sehat, sehingga pantas untuk disebut zalim.

  1. Kurikulum Akhlak.

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S Luqman: 14-15)

Sesudah perintah tauhid dilaksanakan, maka pada ayat ini merupakan perintah kepada semua anak, supaya mereka berbuat baik kepada kedua orang tuanya, karena sesungguhnya kedua orang tua mereka menjadi penyebab pertama bagi keberadaan mereka di dunia.

  1. Kurikulum Sejarah.

“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S Luqman: 14-15)

Ayat ini secara tegas memerintahkan kita, agar mengikuti jalan orang shalih, yaitu dengan membaca, mengkaji, serta mencontoh dari kebaikan yang mereka lakukan, karena mereka telah menempuh jalan lurus dalam menghadap Allah. Dengan cara itu, kita terinspirasi banyak hal tentang kebaikan hidup di dunia dan akhirat.

  1. Kurikulum Sains.

“(Luqman berkata): “Hai anakku”, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya), sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Q.S Luqman: 16).

Ayat ini mengisyaratkan pentinya untuk mengenal alam, dimana di dalamnya terdapat tanda kekuasaan Allah.Tidak ada sesuatu yang paling kecil di alam ini kecuali di bawah pengetahuan Allah.Inilah sebenarnya tujuan mengetahui ilmu alam, yaitu agar kita senantiasa merasa keagungan kekuasaan Allah, sehingga kita semakin dekat dengan-Nya.

  1. Kurikulum Ibadah, Dakwah, Sosial.

“Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu, Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.

            Apa ayat ini, terungkap tiga pesan yang beriringan, yaitu shalat, dakwah, dan sosial. Dengan menegakkan shalat berarti melakukakan perbaikan spiritual, memperkuat kepribadian dan meneguhkan hubungan dengan Allah, agar lidah, hati dan seluruh anggota badan selalu berada dalam bimbingan Allah, sehingga teraih keshahihan individu, setelah itu, maka akan lahir amal-amal kebajikan yang tercermin dalam amar ma’ruf dan nahi munkar, sebagai wujud keshahihan sosial.

  1. Kurikulum Tazkiyatunnafs

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q.S Luqman: 18)

            Melalui ayat ini, Allah melarang manusia bersikap sombong karena sombong, congkak, dan membanggakan diri kepada manusia adalah penyakit berbahaya yang disebabkan karena kebodohan dan jiwa yang kotor.

  1. Kurikulum Etika Sopan Santun.

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai” (Q.S Luqman: 19)

Dalam ayat ini, terdapat pesan etika kesopanan dalam hidup bermasyarakat.Seperti etika berjalan, agar berjalan sopan, etika berbicara sopan dan etika sosial lainnya.

METODOLOGI PENDIDIKAN.

Metode pendidikan merupakan suatu cara yang digunakan pendidik untuk menyampaikan materi pelajaran, keterampilan, keteladanan, atau sikap tertentu agar proses pendidikan berlangsung efektif, dan tujuan pendidikan tercapai dengan baik.

Pemilihan metode yang tepat akan menentukan keberhasilan sebuah proses pendidikan, demikian juga penerapan metode yang kurang tepat akan membuat proses pendidikan menjadi gagal, suasanan pembelajaran akan terasa bosan sehingga siswa sulit menerima pelajaran. Bahkan materi yang mudah akan terasa sulit. Mendidik dengan cara salah sering menimbulkan penolakan. Sebaiknya, ketepatan memilih metode akan membuat transfer ilmu dan sikap terasa mudah dan menyenangkan. Untuk itu, seorang guru harus sering berlatih untuk menemukan metode yang tepat bagi muridnya.

Kajian Teoritis

Secara harfiyah metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu meta yang berarti menuju, dan hodos yang berarti jalan atau cara tertentu. Metodos berarti menuju jalan atau cara tertentu.Dalam arti luas, metode mengandung pengertian cara bertindak menurut sistem aturan tertentu.

Sementara dalam bahasa Arab kata metode diungkapkan dalam bentuk kata thariqah yang berarti jalan, dan manhaj yang berarti sistem, serta wasilah yang berarti perantara.Dari kedua bahasa tersebut sepertinya tidak terjadi perbedaan makna.

Secara istilah, menurut Abuddin Nata metodologi dapat diartikan sebagai cara-cara yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, yaitu perubahan-perubahan kepada keadaan yang lebih baik dari sebelumnya.Dengan demikian, metode ini terkait dengan perubahan dan perbaikan.

Dan dalam tataran konseptual, metodologi pendidikan dalam Islam, selalu berlandaskan pada aspek-aspek yang terkandung dalam ajaran islam itu sendiri yang bersumber dari Al-quran, sunnah serta ijtihad dan pemikiran ulama-ulama islam.

Kajian Tafsir

“Serulah (manusia) kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (Q.S An-Nahl: 125)

Ayat ini menurut Al-Qurtubi, diturunkan di Makkah ketika Rasulullah saw diperintahkan untuk menghadapi kekejaman kaum Quraisy. Allah memerintahkan mengajak mereka kepada agama Allah dan menjalankan syari’at-Nya dengan penuh hikmah, mau’izhah hasanah, dan mujadalah dengan cara terbaik. Pola ini diduga kuat akan mendorong mereka beriman.

Dari ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa ada beberapa alternative dalam menggunakan metode dalam mengajak kebaikan yaitu berupa metode hikmah, mau’izhah hasanah, dan mujadalah.

Metode hikmah banyak dicontohkan oleh Rasulullah saw dalam banyak hal. Kemudian metode mau’izhah hasanah terangkum dalam bahasa penyampaian yang variatif, dan kondisional, yaitu qaulan baligha, qaulan Maysiura, qaulan kariman, qaulan sadidun dan qaulan hasana.

Sementara metode mujadalah merupakan metode dialogis untuk menemukan suatu jawaban yang argumentatif.

EVALUASI PENDIDIKAN

Evaluasi pendidikan yang dilakukan dengan cara pragmatis akan menghasilkan lulusan yang pragmatis pula. Evaluasi pragmatis selalu mengukur dengan angka yang dihasilkan tanpa melihat proses pendidikan yang panjang. Kelulusan hanya dinilai atas dasar angka ujian kognitif dari masing-masing siswa, bukan diarahkan pada uji kelulusan akhlak mereka.Pantas jika lulusan yang ada tidak berkualitas, dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara moral. Dengan kata lain, cerdas secara intelektual, dan skill yang tinggi, namun akhlak dan kepribadiannya sangat memprihatinkan.

Evaluasi yang semacam ini sangat pragmatis dan dualistic, dan tentu tidak dibenarkan dalam konsep pendidikan islam, evaluasi tidak hanya menilai kelulusan peserta didik hanya dari segi kognitif saja, akan tetapi keberhasilan pendidikan dinilai dari perubahan sikap anak didik ke arah yang lebih baik, sehingga kualitas ditentukan oleh kualitas adabnya.

Kajian Teoritis

Dalam bahasa Arab istilah evaluasi dikenal dengan istilah taqwim atau taqyim, serta qayyim yaitu jamak dari qimah.

Pada dasarnya evaluasi adalah sebuah kegiatan mengukur dan menilai, mengukur berarti membandingkan sesuatu dengan satu ukuran, yang mana pengukuran di sini lebih bersifat kuantitatif, sedangkan menilai berarti mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk, sehingga penilaian di sini bersifat kualitatif. Dalam istilah asingnya, pengukuran adalah measurement, sedangkan penilaian adalah evaluation. Dari kata evaluation inilah diperoleh kata Indonesia evaluasi yang berarti menilai yang diawali dengan mengukur terlebih dahulu.

Kajian Tafsir

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri, mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Q.S Al-Hasyr: 18-19)

Dua ayat ini menurut As-Sa’di adalah pokok dari semua evaluasi. Beliau mengatakan: “ayat ini merupakan pokok evaluasi diri, yang sudah seharusnya dilakukan oleh setiap orang mukmin, dengan demikian jika ia melihat pada dirinya kesalahan, maka ia akan segera meninggalkan serta bersegera memperbaikinya, jika ia melihat kekurangan, maka ia akan segera menyempurnakannya. Sebaliknya, jika orang tidak melakukan evaluasi, maka ia akan lupa diri dan diperbudak syahwatnya, sehingga ia tidak dapat menemukan suatu manfaat dalam kehidupan, maka jadilah ia orang yang merugi di dunia dan akhirat, serta dikelompokkan dalam barisan orang-orang fasik.”

KOMPETENSI GURU.

Kualitas pendidikan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas para gurunya, sebagus-bagusnya rancangan kurikulum, teknologi pendidikan, ataupun perencanaan pendidikan, jika tanpa guru yang berkualitas, maka tidak akan membawa kesuksesan dalam meraih tujuan pendidikan. Artinya keberhasilan proses pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas para gurunya. Hal itu karena guru memiliki peran yang amat penting, terutama sebagai agent of change melalui proses pembelajaran.

Namun amat disayangkan, kualitas guru di negeri kita tercinta ini masih jauh dari harapan. Menurut Wakil Sekretaris Jendral Komisi Nasional Pendidikan Sukmawardana, kualitas dan kompetensi guru masih sangat memprihatinkan saat ini. Hal tersebut dibuktikan dengan masih banyaknya guru yang malas mengembangkan kemampuan diri, tidak berpijak pada program mengajar, tidak menguasai metode mengajar yang dapat membuat minat belajar siswa meningkat.

Kajian Teoritis

Kata implementasi secara bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kecakapan atau kemampuan. Dalam bahasa Inggris, W. Robert Houston mendefinisikan kompetensi dengan, “competence ordinarily is defined as adequacy for a task or as possessi on of require knowledge, skill, and abilities” (suatu tugas yang memadai atau pemilikan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dituntut oleh jabatan seseorang. Dalam bahasa Arab kompetensi disebut dengan istilah Al-Kafa’ah, dan juga Al-Ahliyah, yang berarti memiliki kemampuan dan keterampilan dalam bidangnya sehingga ia mempunyai kewenangan atau otoritas untuk melakukan sesuatu dalam batas ilmunya tersebut.

Secara istilah, kompetensi guru menurut Prof. Dede Rosyada, adalah pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai yang direfleksikan oleh seorang guru dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.

Kajian Tafsir

“Dan sesungguhnya telah kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah, dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Q.S Luqman: 12)

Ayat ini memberi indikasi bahwa Allah Swt menganugerahi hikmah kepada Luqman sehingga bebas dari bahaya kesesatan yang nyata.Melalui ayat ini Luqman dikenal sebagai ahli hikmah (Luqman Al-Hakim), yang profilnya dapat dijadikan contoh oleh para pendidik yang hendak mendidik anak muridnya.

Luqman bukan seorang Nabi, tapi hamba yang shalih, yang berasal dari rakyat biasa dari kota Sudan, memiliki kekuatan dan mendapat hikmah dari Allah, namun dia tidak menerima kenabian.

Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar menegaskan bahwa di dalam mencari intisari Al-Quran tidaklah penting untuk mengetahui dari mana asal usul Luqman, pelajaran yang terpenting adalah dari ayat tersebut adalah dasar-dasar hikmah yang diwasiatkannya kepada putranya yang mendapat kemuliaan demikian tinggi.

Hikmah dalam Al-Quran adalah pengetahuan yang disertai dengan berbagai rahasia dan manfaat hukum, sehingga dapat mendorong seseorang untuk mengamalkan sesuatu petunjuk, itulah sebabnya Ibnu Umar mengatakan bahwa Al-Quran adalah kumpulan hikmah

Terdapat beberapa penafsiran tentang maksud hikmah tersebut, seperti kemampuan berpikir, pemahaman makna dengan akal pikiran, paham, ucapan yang benar, mengetahui segala hal dan melaksanakan kebaikan, sehingga sesuai di antara amal dan ilmu yang dimiliki. Inilah hikmah atau karunia yang telah diperoleh luqman, sehingga ia mampu mengerjakan sesuatu amal dengan tuntutan ilmunya sendiri.

Kajian Implementatif

Berdasarkan kajian tafsir surat Luqman ayat 12 tersebut dapat dikembangkan “kompetensi Guru Berbasis Hikmah”, dengan deskripsi sebagai berikut:

  1. Kompetensi Keilmuan (al-ilm al-muhkamah)
  2. Kompetensi Akhlak (al-hilmu)
  3. Kompetensi Profesional (al-ta’anni)
  4. Kompetensi Islamic World View (ishabah al-haq)
  5. Kompetensi agama (al-diyanah)

PENDIDIKAN JIWA

Ciri khas manusia modern adalah lebih percaya pada rasionalitas, sains dan teknologi, serta menempatkanya sebagai instrumen untuk mengendalikan alam. Perdana Menteri India pertama Jawaharal Nehru – seorang agnostik, mengatakan, hanya sains dan teknologi saja yang dapat menyelesaikan problem kelaparan dan kemiskinan, rendahnya tingkat kesehatan dan keberaksaraan, takhayul, adat yang mematikan, dan tradisi, mubazirnya sumber daya, negeri yang kaya yang dihuni orang-orang lapar. Siapa yang mampu mengabaikan sains pada masa sekarang?Pada setiap hal kita membutuhkan bantuannya. Masa depan itu milik sains dan siapa saja yang berteman dengannya.

            Dampak negative dari pandangan rasionalitas tersebut telah menjadikan worldview manusia modern cenderung menilai segala sesuatu hanya sebatas pandangan empiris, dan berdasar pada sudut pandang pinggiran eksistensi.Sementara pandangan tentang spiritual atau pusat spiritualitas dirinya, terpinggirkan.Maka dari itu, meskipun secara material manusia mengalami kemajuan yang spektakuler secara kuantitatif, namun secara kualitatif dan keseluruhan tujuan hidupnya, manusia mengalami krisis spiritual yang sangat menyedihkan.

Danah Zohar, seorang fisikawan barat dalam bukunya Spiritual Quotient (SQ) menuturkan problematika utama yang dialami masyarakat dunia saat ini. Menurutnya, isu utama manusia modern adalah krisis makna. Banyak penulis mengatakan bahwa kebutuhan akan makna merupakan krisis paling penting di zaman ini. Zohar menceritakan pengalamannya ketika dia menyampaikan kuliah di luar negeri dari berbagai negara dan budaya di seluruh dunia, tema pembicaraan orang-orang yang berkumpul adalah berkisar pada persoalan Tuhan, makna, visi, nilai dan kerinduan spiritual. Menurutnya banyak orang yang telah mencapai kemapanan materi namun masih merasakan kehampaan, namun mereka yang mencari pemenuhan spiritual tidak melihat hubungan antara kerinduan mereka dengan agama formal.

Singkatnya, manusia modern cenderung melepaskan diri dari keterkaitan dengan Tuhan, untuk selanjutnya membangun tatanan yang berpusat pada manusia. Manusia dipandang sebagai makhluk bebas dan independen dari Tuhan dan alam, karena manusia menjadi tuan atas nasib dirinya sendiri. Dari sini, terjadilah apa yang disebut kultus pesona. Sebagai kelanjutan dari kultus pesona ini adalah berkembangnya gagasan tentang kebebasan dan utopia, yang berdiri sendiri tanpa dasar kosmis atau tanpa hubungan dengan The Higher Consciousness. Akibatnya, kehidupan manusia terdominasi oleh hipnotis atmosfer modernitas, yang pada gilirannya akan membuat manusia lengah dan tidak menyadari bahwa dimensi spiritualnya terdistorsi, sehingga tidak mengherankan jika akar spiritualitas tercabut dari panggung kehidupan global.

Kajian Teoritis

Konsep tentang jiwa merupakan konsep yang cukup sulit untuk dipahami dan dijelaskan dalam sebuah pengertian.Hal itu dikarenakan banyaknya perngertian secara epitemologi yang diajukan oleh para ahli ilmu jiwa, sehingga banyak memunculkan persepsi yang berbeda-beda atau bahkan pengaburan arti.Akibatnya sering timbul perbedaan pendapat mengenai perngertian yang berbeda, sesuai dengan minat, paradigm, dan aliran masing-masing.Tidak hanya itu saja, jiwa juga mempunyai hubungan yang kompleks dengan konsep lainnnya, seperti jasad, ruh, sadr, qalb, dan aql.

Dalam bahasa Arab sendiri, kata jiwa diterjemahkan dengan kata nafs. Oleh karena itu, ilmu jiwa dalam bahasa Arab disebut dengan nama Ilmu Nafs. Nafs dalam arti jiwa telah dibicarakan para ahli sejak kurun waktu yang sangat lama.Dan persoalan nafs telah dibahas dalam kajian filsafat, psikologi, ilmu kalam, ilmu tasawuf, tafsir, dan hadits.

Manusia terdiri dari dua unsur, yaitu unsur yang terdiri dari jasad dan ruh, sehingga manusia merupakan makhluk jasadiyah dan ruhiyah sekaligus.Hubungan keduanya bagaikan hubungan antara seorang nahkoda dengan sebuah perahu, dimana nahkoda berfungsi sebagai pengatur dan pengarah tujaun jalannya perahu, dan menenangkan arus air yang membawa perahu tersebut serta menjaganya di tengah-tengah hembusan gelombang.

Realitas yang mendasari dan prinsip yang menyatukan apa yang kemudian dikenal sebagai manusia bukanlah perubahan jasadnya, melainkan keruhaniannya. Hal itu dikarenakan manusia pada hakikatnya adalah makhluk ruhani, yang esensinya bukanlah fisiknya dan bukan pula fungsi fisik, melainkan jiwa (nafs)adalah identitas esensial manusia yang tetap. Sebab, fisik adalah sesuatu yang mempunyai tempat dan fungsi fisik adalah sesuatu yang tidak berdiri sendiri, keberadaannya tergantung kepada fisik, dengan demikian, manusia merupakan substansi immaterial yang berdiri dan merupakan subyek yang mengetahui.

Kajian Tafsir

“Demi jiwa dan penyempurnaannya, maka ia mengilhaminya dengan keburukan (fujur) dan kebaikan (taqwa), sungguh sangat beruntung orang yang membersihkannya.” (Q.S Al-Syams: 7-10)

Dari empat ayat diatas, Ibnu Jauzi menafsirkan bahwa jiwa memiliki potensi baik dan buruk.Ia berpotensi taqwa (baik) jika selalu mensucikannya dari segala hal yang mengotorinya, dan memperbanyak melakukan ketaatan, amal shalih, serta menjauhkan diri dari segala dosa dan maksiat.

Imam Nawawi menambahkan, bahwa untuk mengapai jiwa yang bersih (nafs thahirah), diperlukan usaha untuk senantiasa memperbaikinya dan menjaganya dari segala hal yang akan merusaknya. Lebih jelasnya beliau berkata:

“Bahwa mendidik jiwa merupakan suatu usaha untuk memperbaiki hati dan menjaganya dari kerusakan.”

Sebaliknya, jiwa juga berpotensi fujur (buruk), jika tidak dijaga dari segala hal yang akan mengotorinya, yaitu berupa perbuatan kekufuran dan kemaksiatan.

Penafsiran Ibnu Jauzi ini, dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah bahwa jiwa haruslah selalu dijaga dengan sungguh-sungguh (mujahadah nafs) dari segala hal yang mengotorinya. Mujahadah nafs tidak akan pernah terwujud, jika tidak dibarengi dengan kemurnian tauhid, dan menjauhi perbuatan syirik, karena tauhid adalah benteng terkuat dalam melindungi jiwa dari segala hal yang akan mengotorinya. Sementara syirik berfungsi sebagai penghancur benteng tersebut, sehingga jiwa menjadi kotor olehnya.

Kajian Implementatatif

Hakikat Pendidikan Jiwa

Banyak istilah dari pendidikan Islam baik dalam bahasa Arab maupun bahasa kontemporer. Dari sekian banyak istilah, istilah yang tepat untuk pendidikan jiwa adalah Tazkiyah An-Nafs. Hal itu cukup beralasan, karena istilah Tazkiyah An-Nafs memiliki landasan yang kuat dan sudah ada dalam Al-Quran yaitu pada surah Al-Syams ayat 7-10 secara jelas dan pada hadits.

Landasan Pendidikan Jiwa

Tauhid adalah landasan utama dalam mendidik jiwa. Tanpa landasan tauhid, bangunan pendidikan jiwa tidak akan pernah berdiri kokoh. Karena tauhid adalah akar yang menghunjam ke bawah, yang mendasari berdirinya bangunan-bangunan jiwa beserta penopang-penopangnya.Sebaliknya, syirik atau dualism sebagai lawan tauhid tidak mampu mendasari jiwa dalam meraih bangunan-bangunan dirinya, karena syirik berasal dari akar yang lemah yang mudah tercabut, sehingga tiada satu bangunan pun yang mampu berdiri dan bertahan di atasnya. Hal ini berbeda dengan corak pendidikan jiwa Barat, yang lebih menekankan pada makna spiritual sebagai potensi khas dalam jasad manusia atau merupakan bagian dari alam, tanpa mengaitkan unsur tauhid dan wahyu sebagai landasannya.

Tujuan Pendidikan Jiwa

Pada hakikatnya jiwa adalah fitrah karena pada hakikatnya manusia terlahir dalam keadaan fitrah.Adapun terjadinya buruk baiknya, tergantung pendidikannya. Ia menjadi baik karena ada usaha untuk memperbaikinya, dan ia menjadi buruk karena ada usaha yang mengotorinya, maka dari itu diperlukan latihan untuk selalu menjadikannya baik.

Kurikulum Pendidikan Jiwa

Kurikulum pendidikan jiwa haruslah terintegrasi dengan tiga unsur jiwa yaitu akal, ghadhab, syahwat.

Metodologi Pendidikan Jiwa

Pendidikan jiwa sebagai jalan dan latihan untuk merealisasikan kesucian batinm dalam upaya menuju kedekatan dengan Allah memerlukan metodologi yang diringkas dalam tiga tahapan.

  1. Tahapan Tahkliyah
  2. Tahapan Tahliyah
  3. Tahqiq Ubudiyyah

PENDIDIKAN AQIDAH

Dewasa ini pembahasan masalah Aqidah menjadi sesuatu yang terkesampingkan dalam kehidupan, kecenderungan masyarakat yang hedonis menjadikan manusia lebih memperhatikan dan memprioritaskan urusan-urusan dunia daripada hal-hal lainnya. Ditambah lagi paham-paham liberalism dan pluralism dalam islam yang dilatarbelakangi oleh western worldview (pandangan kehidupan barat) dirasa sangat mendangkalkan pemahaman dan keimanan, sehingga pemahaman dan pengamalan tauhid menjadi dangkal, sehingga menimbulkan banyak penyimpangan aqidah di tengah-tengah umat islam, padahal akidah merupakan bagian tertinggi dari ajaran islam, yang berperan penting dalam membentuk pribadi-pribadi tangguh, yang dapat merefleksikan kalimat “La ilaha illa Allah” dan “Muhammad rasulullah” (tiada Tuhan selain Allah, Nabi Muhammad saw rasul Allah).

Diantara penyebab utama penyimpangan dalam aqidah adalah faktor kebodohan terhadap aqidah shahihah (aqidah yang benar). Hal ini tidak lain karena tidak mau mempelajari dan mengajarkannya, atau karena kurangnya perhatian terhadapnya. Sehingga tumbuh suatu generasi yang tidak mengenal aqidah shahihah dan tidak mengetahui lawan-lawannya.Akibatnya, terjadilah syubhat atau syak (keraguan), yaitu menyakini yang benar sebagai sesuatu yang bathil dan yang bathil dianggap sebagai sesuatu yang benar.

Selain itu juga disebabkan faktor ta’ashshub (fanatic) kepada sesuatu yang diwarisi dari bapak dan nenek moyangnya, sekalipun hal itu bathil, dan menentang apa saja yang dianggap tidak sesuai dengan warisan nenek moyang itu, sekalipun hal itu benar.

Ada pula yang disebabkan karena taqlid buta, yaitu dengan mengambil pendapat manusia dalam masalah aqidah tanpa mengetahui dalilnya dan tanpa menyelidiki seberapa jauh kebenarannya.Sebagaimana yang terjadi pada golongan-golongan seperti Mu’tazilah, Jahmiyah, Qadariyyah dan para pengikutnya dari kelompok liberal abad ini.

Lebih dari itu, ada juga faktor ghuluw (berlebihan) dalam mencintai para wali dan orang-orang shalih, serta memposisikannya melebihi kapasitasnya, sehingga menyakini ada unsur ketuhanan (uluhiyyah) pada dirinya, yang mampu mendatangkan kemanfaatan, maupun menolak bahaya. Dari sini, terjadi proses transformasi dari penyembahan kepada khaliq, menjadi penyembahan makhluk kepada makhluk, baik dalam hal ber-taqarrub, nadzar, doa, istighatsah dan meminta pertolongan. Sebagaimana yang terjadi pada kaum syiah yang menjadikan para imam-imam mereka melebihi kapasitasnya, dan memposisikannya diatas derajat Nabi dan Rasul, bahkan menyamakannya dengan derajat uluhiyyah.

Kajian Teoritis

Aqidah menurut bahasa (etimologi) berasal dari kata al-‘aqdu yang berarti ikatan, at-tautsiiqu yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu yang berarti mengokohkan (menetapkan) dan ar-rabthu biquwwah yang berarti mengikat dengan kuat.

Sedangkan menurut istilah (terminologi), aqidah adalah keimanan yang teguh dan bersifat pati kepada Allah dengan segala pelaksanaan kewajiban, bertauhid dan taat kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari Akhir, takdir baik dan buruk dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang tentang prinsip-prinsip agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (consensus) dari salafush shalih, serta seluruh berita-berita qathi’ (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliyah yang telah ditetapkan menurut Al-Quran dan As-Sunnah yang shahih serta ijma salafush shalih.

Kajian Tafsir

Pada bab ini kajian tafsir mencakup Q.S Al-Anbiyaa ayat 51-70.

Pada ayat 51 disebutkan tentang profil Nabi Ibrahim yang memiliki “rusyd”, kecerdasan berpikir yang dibimbing oleh wahyu Allah, sehingga mampu membedakan perbuatan yang benar (haq) dan yang salah (bathil).

Pada ayat 52-55 disebutkan tentang contoh kecerdasan Nabi Ibrahim yang mengajak kaumnya untuk berpikir ulang tentang keyakinan mereka atas berhala-berhala sesembahan yang tidak mendatangkan manfaat, ataupun bahaya. Ibnu katsir melihat bahwa inilah petunjuk yang diberikan pada Ibrahim ketika dia kecil.

Setelah Nabi Ibrahim menunjukkan kesesatan kaumnya dalam masalah konsep Tuhan yang lebih diarahkan pada konsep materialistik, maka pada ayat 56 menyebutkan tentang ajakan Ibrahim kepada tauhid rububiyyah, uluhiyyah dan asma’ wasshifat. Menurut Ibnu Katsir pada ayat ini Nabi Ibrahim mengajarkan pada kaumnya tentang konsep Tuhan yang Haq, yaitu Allah yang telah menciptakan langit dan bumi tanpa pola yang ditirunya, serta menciptakannya segala sesuatu. Untuk itu hanya Allah yang patut diibadahi, bukan tuhan lain, yang tidak dapat melakukan semua itu.

Pada ayat 57-58, secara jelas menyebutkan sikap Nabi Ibrahim yang tegas dalam menindak dan menghapuskan segala kesyirikan dan sarana-sarana pendukung kesyirikan.Al-Maraghi berpendapat bahwa ayat ini merupakan keberanian sikap Ibrahim, yang berpegang teguh pada pencegahan kemunkaran dan memusnahkan kebatilan, serta menyapu bersih bekas-bekasnya.

Pada ayat 59-70 menceritakan ujian bagi penyeru tauhid, yaitu dengan memunculkan ancaman dan tekanan dari mush-musuh tauhid. Demikian juga, ayat ini menceritakan pertolongan Allah terhadap penyeru tauhid.

Kajian Implementatif

Tujuan Aqidah Islamiyah

Pendidikan Aqidah Islam mempunyai banyak tujuan yang baik yang harus dipegang teguh, yaitu:

  1. Untuk mengikhlaskan niat dan ibadah kepada Allah semata.
  2. Membebaskan akal dan pikiran dari kekeliruan yang timbul karena jiwa yang kosong dari aqidah.
  3. Ketenangan jiwa dan pikiran, terhindar dari kecemasan dalam jiwa dan kegoncangan pikiran.
  4. Meluruskan tujuan dan perbuatan dari penyelewengan dalam beribadah kepada Allah dan dalam bermuamalah dengan orang lain.
  5. Bersungguh-sungguh dalam segala sesuatu dan tidak melewatkan kesempatan beramal kebajikan, selalu digunakannya dengan baik untuk mengharap pahala.
  6. Menciptakan umat yang kuat yang mengerahkan segala daya dan upaya untuk menegakkan agama Allah serta memperkuat tiang penyanggahnya tanpa peduli apa yang akan terjadi ketika menempuh jalan itu.
  7. Meraih kebahagiaan dunia dan akhirat dengan memperbaiki pribadi-pribadi maupun kelompok-kelompok serta meraih pahala dan kemuliaan.

Ruang Lingkup Materi Aqidah

Secara umum, ruang lingkup pendidikan aqidah mencakup rukun iman yang enam yaitu:

  1. Beriman kepada Allah
  2. Beriman kepada Malaikat Allah
  3. Beriman kepada Kitab-kitab Allah
  4. Beriman kepada Para Rasul Allah
  5. Beriman kepada hari Akhir
  6. Beriman kepada Qadha dan Qadar

Metode Pendidikan Aqidah

  1. Metode hiwar, baik hiwar washfi (dialog deskriptif), maupun hiwar jadali (dialog argumentatif).
  2. Metode Ibrah dan Mau’izah.
  3. Metode Demonstrasi
  4. Metode Ceramah
  5. Metode Targhib dan Tarhib